PROGRAM BANTUAN SUPERVISI KEPADA GURU

PENDAHULUAN

 Dalam dunia pendidikan banyak sekali inovasi yang dilakukan tak terkecuali dalam pembelajaran, karena pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengoptimalkan potensi siswa agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu perlu adanya perrencanaan yang matang, dalam perencanaan ini terdapat pendekatan pembelajaran yang meliputi strategi, metode dan teknik pembelajaran. Pendekatan pembelajaran ini harus dailakukan pembaharuan agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Strategi pembelajaran adalah suatu rangkaian kegiatan yang telah dirancang guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien yang dilakukan oleh guru dan siswa. Macam-macam strategi pembelajaran meliputi: Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE), Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI), Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) , Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK), Stategi Pembelajaran Kontekstual (CTL), Srategi Pembelajaran Afektif, Strategi Pembelajaran Kreatif Produk, Strategi Pembelajaran Inkuiri ktif , Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek, Strategi Pembelajaran Kuantum, Strategi Pembelajaran Siklus, Srategi Pembelajaran Berbasis Komputer dan Berbasis Elektronik (E-Learning), Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir (SPPKB).

Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Macam-macam metode pembelajaran meliputi: Metode Ceramah, Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Kerja Kelompok, Metode Pemberian Tugas, Metode Demonstrasi, Metode Ceramah Plus, Metode Eksperimen, Metode Simulasi, Metode Examples non Examples, Metode Karya Wisata.

Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan guru dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik, misalnya penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Macam-maccam teknik pembelajaran meliputi teknik syarahan, Teknik perbincangan, Teknik projek, Teknik penyelesaian masalah, Teknik dapatan, Teknik permainan, Teknik kooperatif .

Dari ketiga pendekatan pembelajaran itu harus saling berkesinambungan dan terus dilakukan pembaharuan-pembaharuan agar tujuan dari pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Selain itu dalam pelaksanaan strategi, metode dan teknik pembelajaran guru harus menyesuaikan dengan kondisi kelas dan siswa.

Evaluasi dapat digambarkan sebagai pembuatan penetapan tentang nilai , untuk tujuan tertentu, baik berupa gagasan, pekerjaan, solusi, metode, material dan lain–lain, yang melibatkan penggunaan ukuran seperti halnya untuk menilai tingkat suatu tertentu itu akurat, efektif, hemat, atau memuaskan, ketentuan itu baik yang kwantitatif atau kwalitatif. Dengan demikian maka evaluasi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam pengajaran. Dan kegiatan ini merupakan salah satu dari empat tugas pokok seorang guru. Keempat tugas pokok guru tersebut adalah merencanakan, melaksanakan, menilai keberhasilan pengajaran dan memberian bimbingan.

Dalam praktek pengajaran keempat kegiatan pokok ini merupakan sebuah kesatuan yang padu dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dalam melakasanak tugas mengajarnya seorang guru berusaha untuk menciptakan situasi belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar, memotivasi, mengajukan bahan ajar, serta menggunbakan metode dan media yang telah disiapkan. Selain itu guna mencapai tujuan pendidikan yang optimal , guru memberikan bimbingan kepada siswa dengan berupaya untuk memahami kesulitan belajar yang dialami siswa. Dari berbagai persoalan yang di hadapi dalam proses belajar mengajar evaluasi memberikan sumbangan yang cukup berarti. Sehubungan dengan ini , dalam kurikulum Tingkat Satuan pendidikan ( KTSP), fungsi evaluasi digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan proses pembelajaran serta sebagai alat untuk menyeleksi dan sebagai alat untuk memberikan motivasi belajar siswa.

 PEMBAHASAN

A. Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran meliputi aspek yang lebih luas daripada metode pembelajaran. Strategi pembelajaran merupakan cara pandang dan pola pikir guru dalam mengajar. Dalam mengembangkan strategi pembelajaran paling tidak guru perlu mempertimbangkan beberapa hal antara lain: bagaimana mengaktifkan siswa, bagaimana siswa memba­ngun peta konsep, bagaimana mengumpulkan informasi dengan stimulus pertanyaan efektif, bagaimana menggali informasi dari media cetak dan elektronika, bagaimana membandingkan dan mensintesiskan informasi, bagaimana mengamati (mengawasi) kerja siswa secara aktif, bagai­mana cara menganalisis dengan peta akibat atau roda masa depan, serta bagaimana melakukan kerja praktik.[1]

Strategi belajar mengajar merupakan sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Dick dan Carey menyatakan bahwa strategi pembelajar­an terdiri dari komponen-komponen umum dari sejumlah bahan pembelajaran dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersa­ma bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar ter­tentu pada siswa

Beberapa strategi pembelajaran yang umum digunakan dalam proses pembelajaran Ekspository Learning, Strategi ini dilatarbelakangi anggapan bahwa siswa masih kosong dengan ilmu (Teory Blank Slade/Bejana Kosong). Secara garis besar prosedur Strategi  Ekspository Learning ini adalah:

  • Preparasi. Guru mempersiapkan (preparasi) bahan selengkapnya secara sistematis dan rapi.
  • Apersepsi. Guru bertanya atau memberikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian anak didik kepada materi yang akan diajarkan.
  • Presentasi. Guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah atau menyuruh anak didik membaca bahan yang telah disiapkan dari buku teks tertentu atau yang ditulis guru sendiri.
  • Resitasi. Guru bertanya dan anak didik menjawab sesuai bahan yang dipelajari, atau anak didik disuruh menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri (resitasi), tentang pokok-pokok masalah yang telah dipelajari, baik yang dipelajari secara lisan maupun tulisan[2]

 

Enquiry Learning,  Enquiry learning adalah strategi belajar untuk mencari dan menemukan sendiri

  • Mastery Learning/Belajar Tuntas. Istitah belajar tuntas diangkat dari pengertian tentang apa yang disebut dengar “situasi belajar”.
  • Humanity Education, Humanity education merupakan strategi klasik dalam pembelajaran, tetapi beberapa prinsip dasarnya diambil para ahli pendidikan untuk dijadikan sebuah sistem proses pembelajaran. Humanity education menekankan pengembangan martabat manusia yang bebas membuat pilihan dan berkeyakinan

B. Model Pembelajaran

Menurut Nana, model pembelajaran (yang ia samakan dengan metode) adalah cara atau tekhnik yang digunakan dalam mencapai tujuan. Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan[3]

Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik  dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang berfungsi sebagai pedoman bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. [4]

Model Pembelajaran adalah, sebuah rencana atau pola yang dapat digunakan untuk mendesain materi pembelajaran, memandu pembelajaran di kelas dan setting lainnya.[5]  Model pembelajaran ada 3 rumpun : Direct Instruction, Cooperative learning dan Problem Based Instruction.

C. Metode Pembelajaran

Metode mengajar adalah cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Pembelajaran tidak hanya menekankan pada apa yang diajarkan tetapi juga bagaimana mengajarkannya. Maka metode pembalajaran perlu dipilih dengan tepat.

Dalam proses pembelajaran peranan metode dalam pembelajaran sangat menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajran yang di laksanakan oleh seorang guru dalam menyampaikan pesan kepada siswanya. Memilih metode yang tepat untuk menciptakan suasana proses balajar-mangajar yang menarik. Penilaian metode dari segi penerapannya sangat tergantung kepada jumlah siswa yag besar atau kecil.

Menurut buku “Psikologi Pendidikan” yang di buat oleh Dr. Iskandar, M.Pd. Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, antara lain :

  1. Metode Ceramah
  2. Metode Tanya Jawab
  3. Motede Diskusi
  4. Metode Tugas
  5. Metode Kerja Kelompok
  6. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
  7. Metode Sosiodrama dan Bermain Peranan
  8. Metode Problem Solving
  9. Metode Susun Regu
  10. Metode Latihan (Drill)
  11. Metode Karyawisata

Menurut Winston, 1992. ada beberapa metode pembelajaran, antara lain :

  1. Pembelajaran dengan menjelaskan pengalaman
  2. Yaitu metode ini belajar dari pengalaman yang didapat dari latihan-latihan kerja
  3. Pembelajaran dngan mengoreksi kesalahan
  4. Yaitu metode yang menggunakan suatu prosedur perbaikan untuk menunjukkan kesalahan dan mengoreksi kesalahan yang terdapat dalam suatu model.
  5. Pembelajaran dengan merekam kasus-kasus
  6. Yaitu metode ini merekam kasus-kasus untuk penggunaan kemudian
  7. Pembelajaran dengan membangun pohon-pohon identifikasi
  8. Metode ini mempelajari deskripsi suatu konsep membangun pohon keputusan.
  9. Pembelajaran dengan melatih jaringan saraf tiruan
  10. Metode ini mempelajari desi suatu konsep dengan menghitung bobot dari suatu jaringan saraf tiruan.
  11. Pembelajaran dengan evaluasi simulasi
  12. Metode ini mempelajari dari suatu konsep dengan menggunakan simulasi evolusi genetik.

Peranan metode dalam proses belajar-mengajar ialah laksana alat transportasi (kendaraan) yang membawa muatan (isi,kurikilum) ke tempat yang ditentukan (tujuan). Ketiga komponen ini, tujuan sebagai alamat yang di tuju; isi atau kurikulum sebagai muatan, akan sampai melalui alat taransportasi (kendaraan, metode).

Metode belajar-mengajar dilaksanakan guru kelas sesuai dengan kondisi kelas, sesuai pula dengan tujuan dan isi pokok bahasan. Tepat tidaknya pemilihan metode, efektif tidaknya pelaksanaan sangat tergantung kepada kemampuan siswanya, kemudian kepercayaan guru untuk bekerja sama dengan siswa.

D. Evaluasi Hasil Belajar

  1. Definisi Evaluasi

Evaluasi artinya penilaian terhadap tigkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebuah program. Selain kata evaluasi dan assessment ada pula kata lain yang searti dan relative lebih dikenal dalam dunia pendidikan yakni tes, ujian dan ulangan.

Sementara itu , istilah evaluasi biasanya digunakan untuk menilai hasil belajar para siswa pada akhir jenjang pendidikan tertentu, seperti Evaluasi Belajar tahap Akhir Nasional ( EBTANAS ) yang kini disebut ujian akhir Nasional (UAN).

  1. Tujuan dan Fungsi Evaluasi

Evaluasi yang berarti pengungkapan dan pengukuran hasil belajar itu, pada dasarnya merupakan proses penyusunan deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Namun Perlu penyusunan

a.    Tujuan Evaluasi

Pertama untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.

Kedua, untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa  dalam kelompok siswa.

Ketiga, untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.

Keempat untuk mengetahui hingga sejauh mana siswa telah mendayagunakan kapasitas kognitifnya ( kemampuan kecerdasan yang dimilikinya ) untuk keperluan belajar.

Kelima, untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dala proses belajar mengajar  ( PMB)

b.   Fungsi Evaluasi

Disamping memiliki tujuan , evaluasi belajar juga memiliki fungsi –fungsi yang sebagaimana tersebut dibawah ini;

Fungsi diagnostic untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dalam merencanakan program remedial teaching (pengajaran perbaikan )

Sebagai sumber data BP yang dapat memasok data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan (BP)

Sebagai bahan pertimbangan pngembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode fan alat – alat untuk proses PMB[6]

  1. Ragam Evaluasi

Pada prinsipnya , evaluasi hasil belajar merupakan kegiatan berencana dan berkesinambungan.

  1. Pretest dan posttest

Kegitan pretest dilakukan guru secara rutin pada setiap akan memulai penyajian materi terbaru.

Post test adalah kebalikan dari pre test , yakni kegiatan evaluasi yang dilaksanakan guru pada setiap akhir penyajian materi.

  1. Evaluasi bersyarat

Evaluasi jenis ini sangat mirip dengan pretest.

c. Evaluasi Diagnostik

Evaluasi jenis ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian – bagian tertentu yang belum dikuasai siswa.[7]

  1. Syarat Alat Evaluasi

Langkah Pertama yang perlu ditempuh guru dalam menilai prestasi belajar siswa ádalah menyusun alat evaluasi (test instruyen) yang sesuai dengan kebutuhan, dalam arti tidak menyimpang dari indikator dan jenis prestasi yang diharapkan.

Persyaratan pokok penyusunan alat evaluasi yang baik dalam perspektif psikologi belajar (the psychologhy of learning ) meliputi dua macam  yakni;

–   Reliabilitas

–   Validitas

Reliabilitas secara sederhana, reliabilitas (reliability) berarti hal tahan uji atau dapat dipercaya.

Validitas pada prinsipnya, validitas (validity) berarti keabsahan atau kebenaran.

  1. Evaluasi Pelbagai ranah psikologis

Pada bagian ini akan divas serba singkat alternatif pengukuran keberhasilan belajar baik yang berdimensi ranah cipta, ranah rasa, maupun ranah karsa.

  1. Evaluasi Prestasi Kognitif.

Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan.

  1. Evaluasi prestasi Afektif

Dalam merencanakan penyusunan instruyen tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis – jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi.

  1. Evaluasi prestasi pskomotor

Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psicomotor (ranah karsa) hádala observasi.[8]

 

E. Perbaikan Pengajaran/ Remedial

Pengajaran remedial mempunyai peranan penting dalam keseluruhan proses belajar mengajar, khususnya dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Pengajaran remedial merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara keseluruhan. Beberapa alasan pentingnya pengajaran remedial, dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu:

  1. Warga belajar
  2. Pendidik dan pengajar (guru)
  3. Proses belajar
  4. Pelayanan bimbingan.
  1. a.      Tujuan Pengajaran Remedial

Tujuan pengajaran remedial sebenarnya tidak berbeda dengan tujuan pangajaran pada umumya, yaitu agar murid dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Secara khusus pengajaran remedial bertujuan agar murid yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui proses penyembuhan atau perbaikan, baik segi proses belajar mengajar maupun kepribadian murid.

Tujuan pengajaran remedial secara terinci adalah agar murid dapat:

  1. Memahami dirinya, khususnya yang menyangkut prestasi belajar meliputi segi kekuatan, kelemahan, jenis dan sifatnya.
  2. Memperbaiki cara-cara belajar kea rah yang lebih baik sesuai dengan kesulitan yang dihadapi.
  3. Memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat untuk mengatasi kesulitan belajarnya.
  4. Mengembangkan sikap-sikap dan kebiasaan baru yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang lebih baik.
  5. Mengatasi habatan-hambatan belajar yang lebih baik.
  6. Melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan [9]
  1. b.      Fungsi Pengajaran Remedial

Berdasarkan pengertian sebagaimana telah dikemukakan di atas, jelas bahwa pengajaran remedial mempunyai fungsi yang amat penting dalam keseluruhan proses belajar mengajar. Adapun beberapa fungsi pengajaran remedial adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi korektif

Pengajaran remedial mempunyai fungsi korektif, artinya melalui pengajaran remedial dapat diadakan pembentukan atau perbaikan terhadap sesuatu yang dianggap masih belum mencapai apa yang diharapakan dalam keseluruhan proses belajar mengajar. Hal-hal yang diperbaiki atau dibetulkan melalui pengajaran remedial anatara lain meliputi perumusan tujuan:

1)      Penggunaan metode mengajar

2)      Cara-cara belajar

3)      Materi dana alat pelajaran

4)      Evaluasi

5)      Segi-segi pribadi murid

Dalam perbaikan terhadap hal-hal tersebut di atas, maka prestasi belajar murid beserta factor-faktor yang mempengaruhi dapat diperbaiki.

  1. Fungsi penyesuaian

Yang dimaksud penyesuaian adalah agar dapat membantu murid untuk menyesuaikan dirinya terhadap tuntutan kegiatan belajar. Murid dapat belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan pribadinya sehingga mempunyai peluang besar untuk memperoleh prestasi belajar yang lebih baik. Tuntuan belajar yang diberikan murid telah disesuaikan denan sifat jenis dan latar belakang kesulitannya sehingga murid diharapkan lebih terdorong untuk belajar.

  1. Fungsi pemahaman

Fungsi pemahaman adalah agar pengajaran remedial memunkinkan guru, murid dan pihak lain dapat memeperoleh pemahaman yang lebih memahami dirinya dan segala aspeknya. Begitu pula guru dan pihak-pihak lainnya dapat lebih memahami akan keadaan pribadi murid.

  1. Fungsi pengayaan

Fungsi pengayaan dimaksud agar pengajaran remedial dapat memperkaya proses belajar mengajar. Bahan pelajaran yang tidak disampaikan dalam pengajaran regular, dapat iperoleh melalui pengajaran remedial. Pengayaan lain adalah dalam segi metode dan alat yang dipergunakan dalam pengajara remedial. Dengan demikian, diharapkan hasil yang diperoleh murid dapat lebih banyak, lebih luas dan lebih dalam sehingga hasil belajarnya lebih kaya.

  1. Fungsi terapeutik

Dengan pengajaran remedial secara langsung atau tidak langsung dapat menyembuhkan atau memperbaiki kondisi kepribadian dapat menunjang pencapaian prestasi belajar, demikian pula sebaliknya.

  1. Fungsi akselerasi

Fungsi akselerasi adalah agar pengajaran remedial dapat mempercepat proses belajar baik dalam arti waktu maupun materi. Misalnya murid yang tergolong lambat dalam belajar, dapat dibantu lebih cepat proses belajarnya melalui pengajaran remedial. [10]

  1. c.       Strategi dan Pendekatan Remedial

Sasaran akhir pengajaran remedial adalah sama dengan pengajaran pada umumnya, yaitu membantu murid dalam batas-batas normalitas tertentu agar dapat mengembangkan diri seoptimal mungkin sehingga dapat mencapai tingkat penguasaan tertentu, sekurang-kurangnya sesuai dengan batas criteria keberhasilan yang dapat diterima (minimum acceptable, performance). Mengingat secara empiric sasaran strategis itu tidak selamanya dapat dicapai dengan pendekatan system pengajaran konvensional, maka perlu dicari juga pendekatan strategi lainnya.

Dalam konteks konsep dasar diagnose dan pengajaran remedial, Ross dan Stanleymenjelaskan tindakan strategis itu seyogyanya dilakukan secara kuratif dan preventif, dan oleh Dinkmeyar dan Caldwell (dalam bukunya developmental counseling, 1970) ditambahkan bahwa hal itu dapat pula dilakukan dengan upaya yang bersifat pengembangan. [11]

Beberapa metode yang dapat dilaksanakan dalam pengajaran remedial yaitu:

  1. 1.      Metode Pemberian Tugas

Merupakan metode yang dilakukan guru dengan memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid baik secara kelompok maupun secara individual, kemudian diminta pertanggung jawaban atas tugas-tugas tersebut. Adapun penetapan jenis dan sifat tugas yang diberikan disesuaikan dengan jenis, sifat dan latar belakang kesulitan belajar yang dihadapi.

  1. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah suatu proses pendekatan dari murid dalam memecahkan berbagai masalah secara analitis ditinjau dari berbagai titik pandangan. Tujuannya adalah memecahkan masalah, suatu pertemuan pendapat atau suatu kompromi yang disepakati bersama sebagai gambaran dari gagasan terbaik yang diperoleh dari pembicaraan bersama.

Dalam pengajaran remedial, metode diskusi dapat digunakan sebagai salah satu metode dengan memanfaatkan interaksi antar individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar. Peranan guru dalam diskusi adalah merangsang dan mengarahkan jalannya diskusi.  [12]

  1. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab merupakan bentuk interaksi langsung secara lesan antara guru dengan murid. Dalam pengajaran remedial metode tanya jawab dapat dilakukan dalam bentuk dialog antara guru dengan murid yang mengalami kesulitan belajar. Dalam hubungan ini guru dapat mengetahui murid yang mengalami kesulitan belajar dan mengenal jenis atau sifat kesulitan belajar yang dihadapi melalui tanya jawab .Berdasarkan jenis dan sifat kesulitan yang dihadapi murid, maka tujuan pengajaran remedial adalah:

1)      untuk membantu murid mengenal dirinya secara lebih mendalam

2)      membantu murid mengenali kelebihan dan kekurangannya

3)      membantu murid memperbaiki cara belajarnya

  1. Metode Kerja Kelompok

Metode kerja kelompok adalah penyajian dengan cara pemberian tugas-tugas untuk mempelajari sesuatu kepada kelompok-kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan. Dalam kerja kelompok yang terpenting adalah interaksi antar anggota kelompok dan dari interaksi ini diharapkan akan terjadi perbaikan pada diri murid yang mengalami kesulitan dalam belajar.

  1. Metode Tutor Sebaya

Tutor sebaya adalah seorang murid atau beberapa murid yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu murid tertentu yang mengalami kesulitan belajar.

Murid yang dipilih sebagai tutor adalah murid yang tergolong dalam prestasi belajarnya baik dan mempunyai hubungan sosial baik dengan teman-temannya, terutama dengan murid yang mengalami kesulitan belajar.

  1. Metode Pengajaran Individual

Pengajaran individual adalah suatu bentuk proses belajar mengajar yang dilakukan secara individual, artinya dalam bentuk interaksi antara guru dengan seorang murid secara individual. Dengan pengajaran individual ini guru mempunyai banyak waktu untuk memonitor kemajuan belajar murid, mendorong murid agar belajar giat dan membantu secara langsung murid menghadapi kesulitan-kesulitannya.

Untuk melaksanakan pengajaran individual dalam pengajaran remedial, maka guru dituntut memiliki kemampuan sebagai pembimbing (misal: ulet, sabar, bertanggung jawab, menerima, memahami, disenangi, dsb), mampu menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga dalam proses pengajaran terjadi interaksi yang bersifat membantu.[13]

 

 

KESIMPULAN

 

Salah satu upaya peningkatan professional     guru adalah melalui supervisi pengajaran. Pelaksanaan supervisi pengajaran perlu dilakukan secara sistematis oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah bertujuan memberikan pembinaan kepada guru-guru agar dapat melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien. Dalam pelaksanaannya, baik kepala sekolah dan pengawas menggunakan lembar pengamatan yang berisi aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam peningkatan kinerja guru dan kinerja sekolah. Untuk mensupervisi guru digunakan lembar observasi yang berupa alat penilaian kemampuan guru (APKG), sedangkan untuk mensupervisi kinerja sekolah dilakukan dengan mencermati bidang akademik, kesiswaan, personalia, keuangan, sarana dan prasarana, serta hubungan masyarakat.
Evaluasi dapat digambarkan sebagai pembuatan penetapan tentang nilai , untuk tujuan tertentu, baik berupa gagasan, pekerjaan, solusi, metode, material dan lain–lain, yang melibatkan penggunaan ukuran seperti halnya untuk menilai tingkat suatu tertentu itu akurat, efektif, hemat, atau memuaskan, ketentuan itu baik yang kwantitatif atau kwalitatif. Evaluasi itu di lakukan guna mencapai tujuan pendidikan yang optimal , guru memberikan bimbingan kepada siswa dengan berupaya untuk memahami kesulitan belajar yang dialami siswa. dari berbagai persoalan yang di hadapi dalam proses belajar mengajar evaluasi memberikan sumbangan yang cukup berarti.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asep jihad, Abdul haris, Evaluasi Pembelajaran (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2008) cet.II

Arwi Suparman Purwarno. 1997. Analisis Pembelajaran. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Abd mukhid, Buku Ajar Evaluasi Pembelajaran ,(STAIN Pamekasan Press, 2006)

Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran,(Yogyakarta: Multi Pressindo, 2008)

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 1996).

Departemen Pendidikan, Evaluasi Pendidikan, (Indonesia primary school teacher development proyeject 1999).

Iskandar, Psikologi Pendidikan. (Jambi : Gaung Persada Press, 2009).

Muhibbbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja grafindo persada 2003)

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar – Mengajar (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1995)

Pupuh Fathurrohman , Strategi Belajar Mengajar Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam,( Bandung: Refika Adi Tama, 2007 ).

Sartiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2009).


[1] Pupuh Fathurrohman, Strategi Belajar Mengajar Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam, (Bandung: Refika Adi Tama, 2007).  h. 67

[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zais, Strategi Belajar Mengajar ,(Jakarta: Rineka Cipta, 2002). h. 75

[3] Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: CV. Wacana Prima, 2008), h. 22

[4] Udin S. Winataputra. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka., 2003), h. 109-110

[5] (Bruce Joyce and Marsha Weil, Models for teaching dalam Peter F. Oliva, Developing the Curriculum, Little,Brown and Company, 1982), p. 385

[6] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar – Mengajar (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1995) , h. 22

[7] Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2008), h. 61

[8] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 1996), h. 32

[9] Ibid, h. 36

[10] Arwi Suparman Purwarno. Analisis Pembelajaran. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997), h. 162

[11] Sumiati dan Asra, Op. Cit. h. 41

[12] Sartiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2009). h. 79

[13] Ibid, h. 85

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s