resensi buku

Judul Buku: Dahsyatnya Otak Tengah
Penulis: Hartono Sangkanparan
Penerbit : Visimedia
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: xvi + 148 halaman
———————————-
Judul : Mereka Menodong Bung Karno; Kesaksian Seorang Pengawal Presiden
Penulis : Soekardjo Wilardjito
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 354 halaman

Ternyata intimidasi tak hanya dilayangkan dari atasan kepada bawahan, tapi juga dari bawahan kepada atasan. Soekarno sebagai Bapak Bangsa pun tak lepas dari jerat pengintimidasian. Semasa hidupnya ia sering dikebiri oleh–bahkan orang yang berada di bawahannya dalam strata kekuasaan. Yang tentunya mendapatkan legitimasi dari ”pemain utama” bidak catur politik tingkat tinggi. Negara-negara maju.

Dalam buku ini Wilardjito, seorang pengawal Presiden, menguak apa yang ”sebenarnya” terjadi seputar lengsernya Soekarno dari tahta mahkotanya. Sebagai pelaku sejarah, tak bisa dipungkiri, ia paham betul dengan kondisi saat itu. Maka setiap kata yang dituliskan adalah sisi lain sejarah yang selama ini mendekam dalam ingatan. Hingga ia tak mampu membendungnya lagi. Karena ”kebenaran” tak bisa disembunyikan. Serapat apa pun disimpan. Seketat apa pun ia dipertahankan untuk tidak diketahui oleh khalayak publik.

Lewat buah ”nostalgia”nya ini ia meriwayatkan sebuah ”kisah”. Yang sudah barang tentu tak bisa lepas dari subjektifitasnya sebagai penulis. Justru, inilah nilai lebih buku ini. Jika buku-buku sejarah lainnya diramu berdasarkan kesaksian banyak orang, buku ini menunjukkan pada kita bahwa saksi tunggal bisa dijadikan patokan untuk—paling tidak–menilai satu ”kebenaran” yang tak jarang dipermainkan dengan sekehendak peramu sejarah.

Manipulasi

Sebagai negara yang menginginkan kemajuan berpihak kepadanya, Indonesia merasa bosan untuk terus menjadi negara jajahan. Kemerdekaan merupakan tujuan utama yang dielu-elukan oleh tiap warga. Oleh karenanya, meskipun tanpa persetujuan Belanda, dalam hal ini Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia tanggal 27 Desember 1949, Soekarno memplokamirkan kemerdekaan negeri ini pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selang beberapa kemudian, muncul isu tentang pembubaran PKI yang diindikasi membujuk Soekarno menolak saran Belanda agar Indonesia dijadikan negara federal. Dari sinilah skandal manipulasi sejarah mulai dibeberkan. Secara tak sengaja, Wilardjito melihat tayangan film dokumenter. Sontak ia berceletuk; ”Wah ngapusi” (menipu).

Selanjutnya ia berkata: ”…kukatakan begitu, pertama-tama karena ketika serangan 1 Maret 1949 itu aku ikut perang, nyatanya gambarku tidak ada. Kedua yang mondar-mandir di sepanjang jalan Malioboro itu Kapten Latief, bukan Harto. Ketiga yang diperintahkan supaya menduduki stasiun Tugu pasukanku dan diperintah langsung itu aku. Itu juga tak ada gambarnya…”. Inilah pembelaan yang dilancarkan Wilardjito.

Menurutnya, dalam film tersebut yang dijadikan ”tokoh utama” hanyalah Soeharto. Landasan berpikirnya, pertama; serangan 1 Maret 1949 bukanlah inisiatif Soeharto melainkan Sultan HB IX. Kedua; yang selalu ditampilkan hanya Soeharto mulai inisiator sampai pelaksana. Padahal sepengetahuan Wilardjito, saat pertempuran berlangsung Soeharto malah nongkrong di arung sate Kadipiro.

Membaca buku ini, Anda benar-benar dikuakkan sejarah baru dalam narasi yang memiliki nilai ke-intiman yang lebih. Ditulis dengan gaya dongeng yang khas pembaca tak dituntut untuk menghafal kapan satu kejadian terjadi, melainkan digiring untuk mengenali runtutan kronologis yang lebih mengena. Seakan membaca sebuah novel.

Penentangan terhadap kiprah kepemimpinan Soekarno kian berhembus kencang saat CIA tak terima dengan sikap Presiden pertama ini yang dinilai ekstrimis, tak menerima tawaran Belanda tadi. Gendang perlawanan segera ditabuh Amerika dan Belanda. Terbukti setelah PKI dihancurkan, Soekarno-Hatta ditawan Belanda di pulau Bangka.

Sepak terjang penjegalan terhadap kekuasaan Soekarno kian kentara, dan dilakukan secara terang-terangan sekaligus blak-blakan. Salah satu kejadian yang bisa saya ajukan sebagai sebuah tindakan ”anarkis” yang janggal antara lain; keterpaksaan Soekarno dalam penandatanganan surat perintah yang tertanggal 11 Maret 1966 dan naskah pembubaran PKI. Dalam keterangannya, Wilardjito menyebutkan kejanggalan yang tampak adalah surat tersebut kertas dan kop suratnya bukan kertas dan kop kepresidenan, tetapi kemiliteran.

Parahnya, ketika hendak menolak menandatangani diktum tersebut Soekarno malah mendapat jawaban tak mengenakkan dari Basoeki Rachmat: ”Untuk merubah waktunya sudah sangat sempit. Tandatangani sajalah, paduka. Bismillah.”

Kita akan terkaget-kaget setelah M. Panggabean mencerabut pistolnya di tengah persitegangan tadi. Karena merasa nyawanya terancam Soekarno terpaksa menandatangani diktum tersebut. Ini bisa disimak dari ucapan berikut ini; ”Jangan! Jangan! Ya, sudah kalau mandat ini harus kutandatangani, tetapi nanti kalau masyarakat sudah aman dan tertib, supaya mandat ini dikembalikan kepadaku.”

Pertanyaan yang muncul sekarang ini masihkah praktik tak terpuji tersebut masih dibudayakan. Jika intimidasi semacam itu masih dilakukan, mengapa kekuasaan selalu diperebutkan tiap tahunnya. Melihat kenyataan ini kita sepatutnya bertanya sudah dewasakah nalar ”berpolitik” yang dilaksanakan selama ini?
———————
Judul buku : Politik Berparas Perempuan
Penulis : Joni Lovenduski
Penerbit : Kanisius Yogyakarta
Cetakan : 1, 2009
Tebal : 340 halaman

Ada tesis yang mengatakan bahwa meningkatnya jumlah wakil perempuan di dunia politik akan mengubah wajah politik. Benarkah demikian? Ketika perempuan memperoleh kursi di parlementer ada sejumlah persyaratan bagi perempuan untuk bertingkah laku seperti laki-laki. Keterwakilan perempuan di dunia politik masih dibingkai dengan aturan-aturan main yang dibuat oleh laki-laki. Ironis! Inilah kepura-puraan politis! Di satu sisi, memberikan kesempatan untuk keterwakilan perempuan, tetapi di sisi lain gerak perempuan masih dibatasi oleh arogansi maskulinitas. Praktek-praktek politik masih sangat menghargai bentuk-bentuk maskulinitas tradisional dan tidak mengijinkan bentuk-bentuk feminitas tradisional. Politik berparas perempuan, tetapi berjiwa laki-laki.

Politik perempuan yang masih paradoks dan terbelah inilah yang kerap membuat gusar kaum feminis kontemporer. Perempuan seolah masih dipermainkan dengan beragam atribut yang terus mengkerdilkan peran public perempuan. Situasi social juga dirintangi dengan snagat ketat, sehingga gerak politik perempuan mudah tersendat di persimpangan jalan. Fakta inilah yang dikuak secara mendalam oleh Joni Lovenduski dalam bertajuk “Politik Berparas Perempuan”.

Lovenduski melihat bahwa perempuan menghadapi rintangan yang serius untuk menjadi pelaku politik. Pertama, sumber daya perempuan yang diperlukan untuk memasuki wilayah politik lebih lemah. Perempuan lebih miskin dari pada laki-laki dan cenderung tidak ditempatkan pada jabatan-jabatan yang mendukung kegiatan politik. Kedua, bermacam-macam kekangan gaya hidup yang menyebabkan perempuan mempunyai sedikit waktu untuk politik. Kelurag dan kewajiban-kewajiban lain yang menuntut kewajiban penuh secara khas dijalankan oleh perempuan telah mengurangi waktu mereka untuk melakukan kegiatan lain. Ketiga, tugas politik dikategorikan sebagai tugas laki-laki yang menghalangi kaum perempuan mengejar karier politik dan menghalangi rekruetmen politik bagi mereka yang ingin tampil ke depan. (hal. 88).

Kendala yang juga sangat krusial, bagi penulis, juga terletak dalam kendala institusional. Lembaga dan kebijakan public didesains sedemikian rupa sehingga perempuan tidak memiliki akses dan kesempatan untuk mendapatkan ruang public yang sesuai dengan kompetensi mereka. Karena kendalanya sudah sistemik, maka perempuan banyak terjebak dalam kubangan yang “mengerikan”, karena keterwakilannya di lembaga perwakilan rakyat juga masih belum banyak bisa melakukan gerak perubahan yang maksimal. Tak lain karena sendiri dalam lembaga Negara juga sudah terjebak dengan ragam kebijakan yang tak ramah dengan kaum perempuan.

Negara-negara di Timur Tengah masih banyak yang menerapkan standar ganda bagi perempuan. Lovenduski melihat bahwa perempuan di Timur Tengah belum mendapatkan tempat yang layak dalam ruang public, karena seksisme politik masih sangat kental dalam dunia perpolitikan di Timur Tengah. Arab Saudi, Mesir, Syiria, dan lainnya menjadi contoh yang diurai penulis bahwa Negara Timur Tengah masih sangat maskulin, hak-hak feminis masih terbelenggu system institusional yang snagat mengekang perempuan berkiprah di ruang public. Barangkali tidak salah kalau tidak sedikit kasus tenaga kerja wanita yang bertugas di Timur Tengah mendapatkan perlakukan yang tidak hormat, karena pandangan public ihwal perempuan di Timur Tengah masih terbelah.

Namun demikian, penulis juga mengkritik pola perilaku demokrasi di Barat yang sebenarnya juga masih banyak kasus yang mencederai perempuan. Di Inggris, penulis melihat bahwa partai-partai politik belum memberikan porsi sederajat bagi perempuan untuk berkiprah. Baik Partai Republik, Partai Demokrat, Partai Buruh, belum melakukan gerakan radikal dalam memberdayakan keterwakilan perempuan di dunia politik. Ini berimplikasi bahwa perempuan yang duduk di lembaga perwakilan juga belum bisa menyuarakan secara total dalam mengangkat harkat dan martabar perempuan di dunia politik. Ini sebuah ironis, karena Barat selama ini selalu menggelorakan feminisasi politik, tetapi pencederaan atas politik perempuan ternyata masih kental di sana. Dan ini diakui oleh penulis buku ini yang merupakan professor politik di London.

Maka dari itu, Lovenduski bergerak dalam argumennya bahwa keadilan social sangat realistis untuk mendudukkan perempuan secara sederajat dengan laki-laki. Bagi penulis, argumen yang paling kuat untuk mendukung bertambahnya perwakilan perempuan adalah argument yang di dasarkan pada prinsip-prinsip keadilan. Argument tersebut menyatakan bahwa sangatlah tidak adil jika kaum laki-laki memonopoli perwakilan, terutama di suatu Negara yang menganggap diri sebagai Negara demokrasi modern. Mengutip Anne Phillips, penulis menyatakanbahwa “tidak ada argument yang bertolak dari keadilan dapat mempertahankan keadaan seperti sekarang ini; dan…ada argument keadilan untuk kesamaan antara perempuan dan laki-laki. Argument-argumen tambahan mengenai kodrat perwakilan dapat mengaburkan inti pokok itu, tetapi argument-argumen tambahan itu tidak pernah dapat membalikkannya.

Argument keadilan juga di dukung oleh klaim-klaim dari kewargaan. Kewargaan merupakan sekumpulan hak, kewajiban, alat kelengkapan, dan identitas yang membentuk milik seseorang dalam system politik. Dalam istilah-istilah konstitusional, perempuan secara formal mempunyai kewargaan yang sama dengan laki-laki dalam sistem-sistem demokratis. Namun demikian, cara tatanan-tatanan kelembagaan merumuskan kewargaan dapat memiliki pengaruh berbeda pada perempuan dan laki-laki. Demokrasi di Negara modern yang di pahami secara sempit yang di gambarkan di atas memungkinkan sistem pemilihan yang secara khusus tidak menguntungkan bagi perempuan. Dapat di perdebatkan, sistem pemilihan Westminster merupakan rintangan besar bagi perwakilan perempuan (hal. 48-49).

Perjuangan feminisasi politik yang diakui penulis memang masih terjal. Tetapi itu tidaklah kemudian menyurutkan spirit kaum feminis untuk bergerak lebih maju, karena jalan terjal inilah yang akan membuka tabir dan titik terang untuk pencerahan kaum perempuan di masa depan.
————————-
Judul Buku : Pekerjaan Sosial & Kesejahteraan Sosial;
Sebuah Pengantar
Penulis : Miftachul Huda
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : xxii + 332 halaman
Peresensi : Supriyadi*)

Manusia dalam kancah sosial adalah sebagai makhluk sosial. Kepentingan hidup manusia dalam tataran sosial adalah menuju kepada taraf hidup yang sejahtera. Kesejahteraan menjadi harga mati karena pada dasarnya manusia itu hidup di dunia ini menginginkan terpenuhinya segala sesuatu yang menjadikan hidupnya terasa nyaman dan sejahtera. Karena manusia adalah makhluk sosial, tentunya ia tidak mungkin mampu hidup secara individu. Manusia membutuhkan sesama yang lain untuk meyelesaikan masalah-masalah sosial yang dihadapi.

Miftachul Huda dalam bukunya yang berjudul “Pekerjaan Sosial & Kesejahteraan Sosial; Sebuah Pengantar” mengantar para pembacanya untuk memahami pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial secara definitif. Pekerjaan adalah sarana bagi manusia untuk mendapatkan kesejahteraan. Seseorang yang menginginkan kesejahteraan hidup, maka berusaha dengan upaya sosial-sosialnya. Dalam konteks tersebut, jelaslah manusia itu mempunyai tujuan hidup sejahtera.
Dalam definisinya, pekerjaan sosial (social work) menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Pekerjaan sosial adalah sebuah disiplin ilmu yang berkepentigan untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh umat manusia. Dalam ranah sosial, pekerjaan sosial bukanlah suatu pekerjaan yang bersifat secara suka rela, melainkan secara profesional.
Banyak kalangan yang masih awam tentang pekerjaan sosial sebagai disiplin ilmu karena kurang tegasnya dalam penamaannya. Selain itu, pekerja sosial (social worker) sebagai subyek (dalam arti sosial) dipandang identik dengan kegiatan sekarela dan tidak professional. Padahal, pekerja sosial itu tidak demikian, justru pekerjaan sosial bersifat professional. Karena seorang pekerja sosial harus mempunyai cukup bekal pengetahuan (knowledge), keahian (skill), dan nilai (value). Contoh konkret dari pekerjaan sosial adalah profesi guru (dalam pendidikan), dokter (dalam kedokteran/kesehatan), dan lain sebagianya. Baik guru ataupun dokter harus mempunyai bekal pengetahuan, keahlian, dan nilai. Guru atau dokter pun menempuh jalan yang panjang untuk bisa menjadi pekerja sosial. Oleh karena itu, profesi guru dan dokter termasuk dalam lingkup pekerjaan sosial.
Pekerjaan sosial sebagai disiplin ilmu memang lahir bukan dari rahim Indonesia, melainkan dari rahim Barat. Akan tetapi bukan berarti pekerjaan sosial tidak relevan jika diaplikasikan di Indonesia sebagai sebuah disiplin ilmu. Justru pekerjaan sosial sangat tepat dan relevan jika diaplikasikan di Indonesia, karena Indonesia adalah sebuah bangsa dan negara berkembang yang kini bisa dikatakan “terpuruk” dalam krisis, tentunya membutuhkan kajian-kajian solutif untuk menuju perbaikan, yakni kesejahteraan.
Sementara kesejahteraan sosial (social welfare) menurut James Midgley (1997:5) yaitu suatu kondisi yang mana terpenuhinya tiga syarat utama, yakni ; ketika masalah sosial dapat dikelola dengan baik, ketika kebutuhan terpenuhi, dan ketika peluang-peluang sosial terbuka secara maksimal. Dalam konteks Indonesia sendiri, kesejahteraan sosial dapat dimaknai terpenuhinya kebutuhan seseorang, kelompok, atau masyarakat dalam hal material, spiritual maupun sosial (hal. 73)
Melihat pada realita Indonesia yang ada sekarang, pantaskah masyarakat di Indonesia disebut masyarakat yang sejahtera sementara tingkat kemiskinan masih “tinggi”? Hal itu mengingatkan kepada publik bahwa kesejahteraan menjadi tujuan yang sulit tercapai. Tidak dapat dipungkiri bahwa di balik tingkat kemiskinan yang masih “tinggi” itu, ada sebagian kelompok (elit) yang berhura-hura dengan kesejahteraannya tanpa mempedulikan golongan dengan taraf kesejahteraan hidupnya masih di angan-angan. Kontradiksi semacam itu menjadi keresahan menurut kacamata keadilan yang mana hal itu melunturkan nilai-nilai kepedulian sosial.
Antara pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial mempunyai titik temu pada ranah sosialnya, yaitu aplikasinya pada mayarakat. Pekerjaan sosial merupakan penyelesai dan solusi dari permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapi oleh umat manusia, sementara kesejahteraan sosial menjadi tujuan hidup umat manusia. Secara runtut, pekerjaan sosial menjadi sarana untuk mensejahterakan umat manusia.
Berangkat dari hal itu, jelaslah bahwa pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial adalah dua istilah yang berbeda. Kesejahteraan sosial lebih luas dari pada pekerjaan sosial karena kesejahteraan sosial meliputi bidang-bidang pekerjaan sosial. Segala profesi dari pekerjaan sosial mempunyai tujuan yang sama, yakni megupayakan kesejahteraan sosial. Dalam hal ini, kesejahteraan masyarakat menjadi core (inti) dari segala profesi yang ada. Karena itulah kesejahteraan sosial memiliki cakupan yang sangat luas tidak hanya terkait dengan ilmu pekerjaan sosial saja tetapi juga termasuk bidang pekerjaan lain yang berurusan dengan masyarakat (hal. 82)
Melalui buku yang berjudul “Pekerjaan Sosial & Kesejahteraan Sosial; Sebuah Pengantar”, penulis mengajak para pembaca untuk menyelami realita pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial sebagai disiplin ilmu dan aplikasinya pada masyarakat. Dengan penggunaan bahasa yang mudah untuk dipahami, buku ini sesuai untuk dijadikan referensi bagi siapa saja yang mempunyai kepedulian sosial. Karena pada dasarnya, kepedulian sosial menjadi pijakan awal untuk menuju pekerjaan sosial yang mensejahterakan.
———————————————————–
Gagasan yang Menyangga Kolonialisme
Judul Buku: Hindia Belanda: Studi tentang Ekonomi Majemuk
Penulis: J.S. Furnivall
Prolog dan Epilog: Thee Kian Wie dan Poltak Hotradero
Penerbit: Freedom Institute, Jakarta
Cetakan: Pertama, Agustus 2009
Tebal: xxxiv + 544 Halaman

SETELAH hampir 70 tahun diterbitkan kali pertama dalam bahasa Inggris, Netherlands Indie: A Study of Plural Economy (Cambridge University Press, 1939), salah satu karya besar John Syndenham Furnivall ini diterbitkan dalam edisi Indonesia. Di dunia akademik, khususnya di bangku kuliah ilmu sejarah dan politik, sebenarnya nama Furnivall dan karangannya ini sudah dikenal luas, malah hampir mengklasik.

Ditakar sesuai tema dan runtutan gagasan, karya ini juga nyaris sama klasiknya dengan disertasi sejarawan J.H. Boeke, Tropisch Koloniale Staathuiskunde, yang dipublikasikan persis seabad lalu (1910).

Secara umum, buku yang disebut Thee Kian Wie sebagai ”ensiklopedi tentang Indonesia” ini komprehensif dan terperinci. Merentang mulai masa-masa supremasi Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC, 1600-1800) sampai masa krisis ekonomi dahsyat yang melanda Indonesia mulai 1929 hingga akhir 1930-an. Atau, setidak-tidaknya sebagai awal sebelum meneruskan memelototi karya besar Furnivall satu lagi, Colonial Policy and Practice: A Comparatif Study of Burma and Nedherlands Indie (1948).

Tapi, secara khusus, menurut saya, buku ini layak diperiksa sebagai ”gugus gagasan ilmiah” yang menyangga kolonialisme di Hindia Belanda. Mengapa disebut ”gugus”? Sebab, pokok gagasan di buku ini terkait erat dengan pandangan Furnivall atas kesangsian Boeke perihal penerapan teori dualisme ekonomi di Hindia Belanda. Dalam disertasi Tropisch Koloniale Staathuiskunde, menurut Furnivall, Boeke terlalu menekankan diferensiasi antara tata sosial kapitalis dan prakapitalis, antara motif ekonomi modern Barat dan pribumi.

Sebaliknya, pengalaman 20 tahun Boeke di Pulau Jawa malah memperkuat pemikirannya bahwa penerapan ekonomi modern Barat di Hindia Belanda tak akan pernah mencapai hasil memuaskan. ”…aksioma-aksioma yang menjadi dasarnya tidak berlaku dalam kehidupan pribumi dan karena kondisi-kondisi di wilayah pendudukan itu sangat berbeda dengan kondisi-kondisi di Barat,” kata Boeke. Itu pun terbukti ketika pada 1930 Politik Etis dihentikan lantaran, salah satunya, daerah koloni (Hindia Belanda) kian dilanda krisis ekonomi dahsyat.

Sebagai fondasi pemikiran ekonomi-politiknya, Furnivall tak luput memaparkan persepsi sosiologis mengenai Hindia Belanda -yang bagi bangsa pascakolonial seperti kita sangat krusial. Furnivall menyebutkan, Hindia Belanda merupakan satu contoh ”masyarakat majemuk”. Masyarakat majemuk itu ”masyarakat yang terdiri atas satu atau lebih golongan atau tata sosial yang hidup berdampingan, tapi tanpa berbaur dalam satu unit politik. Dalam hal ini, Hindia Belanda adalah tipikal wilayah pendudukan tropis di mana penguasa dan rakyat berasal dari ras berbeda” (hlm 471).

Atas dua larik kalimat tersebut, beberapa kritik (bernada ”curiga”) layak ditemu-kemukakan. Pertama, soal ”tipikal”, ”tropis”, dan ”ras”; tiga kata sebagai clue yang teramat mengganggu. Harus dipahami bahwa adanya ”pembagian kerja berdasar etnis”, sebagaimana tercatat eksplisit, merupakan penjeda pemikiran antara Furnivall dan Boeke. Tapi, penjeda itulah yang justru memendam pekat premis ilmu kolonial yang meyakini bahwa tipe-tipe ras tertentu memiliki ciri-ciri fisik dan karakter bawaan.

Sejarawan HW van den Doel dalam buku De Stille Macht: Het Europese Binnelands Bestuur op Java en Madoera, 1808-1942 (1994: 276-277) sempat mencatat pamflet JHE Kohlbrugge yang diedarkan pada 1907. Kohlbrugge adalah seorang dokter yang sebelas tahun bekerja di Jawa -dan secara politik dia konservatif.

Tentang karakter orang Timur (Jawa), bagi dia, ”Logika tidak dikenal dan kekacauan spirituallah yang menguasainya. Hanya nafsu dan emosi yang dapat menggerakkan orang Timur. Timur diperbudak oleh alam, lemah, dan tidak berkemauan.” Pangkal musabab semua itu, lanjut dia, adalah iklim tropis -yang menjadikan orang tak mampu menegang saraf dan berpikir terus-menerus.

Kedua, ihwal ”tanpa berbaur dalam satu unit politik” lantaran ”penguasa dan rakyat berasal dari ras berbeda”. Membaca kritis logika tersebut, rumusan Furnivall tiba-tiba saja tampak hipokrit karena menutup-nutupi kebijakan politik kolonial, di bawah selubung dalil ilmiah. Bagaimana tidak? Menelusuri sejarah binnelands bestuur (pegawai negeri kolonial) saja, misalnya, van den Doel sampai menyebut sebagai de stille macht, kekuasaan tersembunyi. Posisi binnelands bestuur sebagai alat kekuasaan pemerintah kolonial memang efektif, sekalipun sehari-hari mereka cukup melakukan kerja-kerja ”diam” administratif.

Sampai kekuasaan kolonial Belanda tamat, tidak pernah ada pribumi yang mendapat tempat sebagai binnelands bestuur. Tentu ini bukan hanya lantaran kekolotan politikus konservatif, tapi juga dilegitimasi sejumlah kalangan sarjana. Salah satunya, sebagaimana disebutkan P. Swantoro (2002), guru besar hukum tata negara dari Universitas Utrecht: J. de Louter (1847-1932). Menurut de Louter, ”Kaum pribumi di Hindia Belanda tidak bisa dipercaya, betapa pun tinggi pendidikan mereka. Selain itu, mereka akan rugi jika diberi kesempatan menduduki jabatan orang Eropa karena justru akan terasing dari bangsa mereka sendiri.” Furnivall adalah sarjana yang tak jauh selisih dari de Louter.

Kini, kiranya tak perlu lagi ada ragu di antara kita. Sebab, bahkan dalam pengantar buku ini, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1929-1931 ACD de Graeff, yang pada 1947 menulis buku Colonial Policy and Practice, begitu mengumbar ungkapan sanjungan sekaligus terang memosisikan garapan Furnivall ini untuk keberlangsungan politik kolonial. Yakni, ”agar administrasi-administrasi (kolonial) lain bisa belajar dari kegagalan dan pencapaian Belanda” (hlm xxiv).

Apalagi, diperiksa dari tahun penerbitan (1939), Furnivall sesungguhnya meluncurkan buku ini tepat pada periode yang -menurut Arjen Tasselar- sohor sebagai ”periode interbellum”. Yakni, periode antara dua Perang Dunia (1920-1940) alias ”puncak kolonialisme Belanda”. Suatu periode ketika ekspansi teritorial disudahi -dan Belanda berilusi bahwa keadaan rijkseenheidsgedachte (Hindia dan Belanda tak terpisahkan) bakal terus berlangsung sepanjang zaman. (*)
————————————
Menapaki Jejak Gus Dur
Judul buku: Jagadnya Gus Dur; Demokrasi, Pluralisme, dan Pribumisasi Islam
Penulis : KH Zainal Arifin Thoha

Penerbit : KUTUB, Jogjakarta
Cetakan : Januari 2010
Tebal : xvi + 276 Halaman
BUKU berjudul Jagadnya Gus Dur; Demokrasi, Pluralisme, dan Pribumisasi Islam yang ditulis KH Zainal Arifin Thoha ini adalah buku yang mengulas jejak langkah, pemikiran-pemikiran dan gerakan Gus Dur. Mulai gerakan kultural (sebagai ketua umum PB NU) sampai pada struktural (menjadi presiden keempat RI).

Dalam buku ini dikatakan bahwa Gus Dur adalah sosok kiai yang cerdas, karismatik, dan jenaka. Dia selalu bersikap i’tisar, yakni menyenangkan orang lain dengan selalu bersikap akomodatif dan demokratis, serta mampu mengalahkan dirinya sendiri. Dalam hal ini, banyak anak muda dan tokoh nonmuslim yang terinspirasi, baik dari tulisan maupun pernyataan-pernyataan Gus Dur.

Resonansi kekiaian Gus Dur juga tidak hanya dirasakan kalangan umat Islam, tetapi juga di kalangan umat agama lain. Itu sebabnya, kepergian Gus Dur tidak hanya ditangisi oleh kalangan umat Islam, tetapi juga umat agama lain. Hal ini terbukti dari maraknya acara doa lintas iman dan keyakinan yang dirapalkan di berbagai daerah di Indonesia, baik untuk kesembuhan Gus Dur semasa sakit maupun untuk ketenangan arwah Gus Dur yang kini sudah dipanggil ke hadirat-Nya.

Ulama Aktivis

Seperti dikatakan Abdul Moqsith Ghazali (2010) bahwa semasa hidup, Gus Dur bukan hanya tokoh pemikir dan ulama yang bertafsir dan berteologi dari atas menara. Dia adalah seorang aktivis yang terlibat dalam kerja-kerja advokasi, terutama terhadap kelompok-kelompok tertindas, baik dari agama, etnis, maupun gender. Gus Dur akan hadir, misalnya, ketika buruh dan pedagang kaki lima mengalami ketidakadilan. Dia bersumpah akan terus membela hak-hak sipil kelompok Ahmadiyah tatkala hak-hak mereka dirampas. Dia akan datang begitu ada rumah ibadah yang dibakar. ”Manusia perlu dibela, Tuhan tidak,” kata Gus Dur. Upaya seperti itulah yang membedakan Gus Dur dengan banyak tokoh lain.

Bagi kita, barangkali eksistensi Gus Dur telah menerbitkan tantangan tersendiri, bahwa siapa saja dan di mana saja bisa bangkit dan berdiri seraya melakukan perubahan-perubahan (mulai dari diri sendiri) untuk masyarakat, bangsa dan dunia, yang memiliki arti penting bagi nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan kemajuan. Bagi Indonesia, eksistensi Gus Dur telah menerbitkan angin segar yang penuh kebaruan dan harapan bahwa negara bukanlah suara entitas mistis, sakral dan tak terjamah. Sebaliknya, negara tidak lain hanyalah satu entitas dari pluralitas entitas, yang masing-masing (seharusnya) memiliki independensi, yaitu saling menerima dan memberi tanpa intervensi. Dengan demikian, betul-betul tercipta civil society atau kewarganegaraan yang mandiri.

Sang ”Pamomong”

Gus Dur memang sang ”pamomong”. Dia figur yang memiliki watak mengayomi, membimbing, serta memperteguh kasih sayang atas sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang status sosialnya. Sikap yang ditunjukkan kepada pejabat, misalnya, atau bahkan kepada presiden sekalipun, tidak berbeda dengan sikap yang diberikannya kepada wong cilik. Itu sebabnya, setiap kali mengadakan open house di kediamannya, Gus Dur tetap saja ramah dan penuh kasih sayang kepada siapa saja yang datang. Gus Dur juga seolah telah ditakdirkan oleh sejarah untuk selalu ”zig-zag”. Karena itu pula, barangkali, dia diemong oleh sejarah untuk menjadi jembatan antar berbagai kepentingan.

”Zig-zag” itu terlihat betapa Gus Dur kecil yang lahir di Pesantren Denanyar, Jombang, kemudian harus pindah ikut orang tuanya ke Jakarta, yang memperkenalkannya dengan khazanah dunia modern. Kemudian dia harus pindah ke Jogjakarta, kembali pada dunia pesantren, termasuk ke Magelang. Lalu dia mengenal dunia Timur Tengah, juga beberapa negara Eropa, lalu kembali ke Jombang, dan pindah serta menetap di Jakarta. Dengan ”zig-zag” seperti itu Gus Dur menjadi banyak mengenal pluralitas budaya.

Sebagai pamomong, Gus Dur memang memiliki banyak warna. Sebagai figur seorang ulama, dia dikenal dengan wacana ”pribumisasi Islam”-nya. Sebagai negarawan, Gus Dur dikenal dengan gagasan-gagasan ”demokrasi”-nya. Sebagai politikus, Gus Dur dikenal dengan ”politik zig-zag”-nya. Sebagai pemimpin masyarakat, Gus Dur dikenal sebagai ”king makers”-nya. Sebagai budayawan, Gus Dur dikenal dengan ”humor-humor cerdas”-nya. Sebagai cendekiawan dan intelektual, Gus Dur dikenal dengan pemikiran ”liberal”-nya; dan sebagainya. Inilah gambaran sosok sang pamomong, sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke-tawadluan sekaligus kebebasan; sosok yang memerankan diri laksana ”bandul jam” yang terus bergerak dinamis, dari kutub ke kutub yang lain, lalu menciptakan keseimbangan (hlm. 28).

Oleh karena itu, kepergian Gus Dur sesungguhnya adalah kehilangan besar bagi bangsa ini. Terlebih di tengah keprihatinan yang ditimbulkan oleh kecenderungan kuasa untuk merobohkan tiang demokrasi yang sejak lama diperjuangkan Gus Dur. Dalam situasi demikian, seperti dikatakan Yudi Latif (2010), tugas intelektual untuk ”berkata benar pada kuasa” penting dipancangkan sebagai penjaga kewarasan bangsa. Keberanian berkata ”benar” inilah warisan kepahlawanan Gus Dur yang teramat mulia untuk dijunjung tinggi tunas pahlawan masa depan.

Ali Ibn Abi Thalib, salah seorang sahabat Nabi Saw, pernah berkata bahwa ”jika seorang pahlawan alim meninggal, terjadilah lubang dalam komunitas yang tidak tertutupi hingga datang alim lain yang menggantikannya”. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa kita tengah berada dalam transisi pencarian figur-figur ”Gus Dur” baru untuk melanjutkan perjuangannya.

Oleh karena itu, hadirnya buku Jagadnya Gus Dur ini setidaknya bisa menggugah hati kita untuk mengetahui, memahami, dan meneladani jejak langkah, pemikiran, dan gerakan Gus Dur, dan selanjutnya mampu meneruskan perjuangannya. Semoga. (*)
—————————
Judul buku : Hermeneutika Al-Quran?
Penulis : Prof. Hassan Hanafi
Penerbit : Pesantren Nawesea Press Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : 116 halaman

Kajian keilmuan selalu menghadirkan perspektif baru dalam memandang persoalan. Kemajuan kajian terindikasi dengan semakin beragam perspektif yang tampil dengan kebebasan akademik yang otonom. Semakin banyak bersemai berbagai pandangan yang menyemarakkan ritual diskusi. Semakin tinggi sebuah ide bertebaran dengan berbagai tanggapan yang mengitari. Dan semakin begairah manusia untuk selalu berfikir dan mendiskusikan hal-hal substansial untuk menyegarkan ide kemanusiaan di tengah kemelut isu kemanusiaan yang tak kunjung usai.

Dalam kajian keislaman (Islamic studies), kajian keilmuan memakai berbagai aksioma dengan beragam sudut pandang. Kajian banyak berkisar di ulum al-quran, ilm al-hadits, ushul fiqh, qowaid fiqhiyyah, ilm tarikh (ilmu sejarah), dan sebagainya. Karena banyaknya kajian inilah maka dikenal istilah ijma’ (konsensus) dalam kajian Islamic studies. Ijma’ ini biasanya akan menyatukan beragam pendapat yang silang-sengkarut, sehingga ditemukan sebuah kesepakatan. Ijma’ ini kemudian menjadi salah satu sumber penetapan hukum atas sebuah persoalan setelah Al-Quran dan Hadits.

Beragam pendekatan dalam Islamic studies merupakan indikasi bahwa intelektual Islam mempunyai cara pandang sendiri dalam menafsirkan kalam ilahi. Mereka (intelektual Islam) tidak mau terjebak dalam aksiomatika yang parsial, karena hany akan mengahdirkan tafsir yang parsial juga. Konsep ijma’ menjadi bukti bahwa cara ilmiah yang digunakan intelektual Islam tidak sekedar “semau gue”, “sesuai pendapat gue”, dan “sesuka pikiran gue”, tetapi melalui kajian dan perdebatan yang serius, sehingga menghasilkan consensus yang rasional dan diterima semuanya.

Karena tidak berangkat dalam ruang dalam ruang hampa dalam kajian keilmuan, maka intelektual Islam merumuskan teori keilmuannya juga didasarkan pada aide-ide yang rasional. Bukan sekedar asal-asalan saja. Termasuk dalam mengkaji hermeneutika dalam kajian ilmu Al-Quran. Menyematkan kajian hermeneutikan dalam kalam ilahi bukanlah dengan asal saja, tetapi harus melalui perdebatan yang serius, sehingga tidak menghasilkan hasil rumusan yang srampangan.

Perlu ijma’ dalam menetapkan hermeneutika dalam kajian ilmu al-Quran. Makanya perlu perdebatan panjang, tidak dengan menyuguhkannya dengan asal saja, dan marah ketika ada yang mengkritiknya. Inilah yang coba diurai Prof Hassan Hanafi, guru bisar filsafat Islam di Universitas Cairo. Hassan Hanafi dikenal sebagai penggagas Kiri Islam yang mencoba melakukan gerakan kritis dalam mendobrak kejumudan intelektual di dunia Islam. Kiri Islam yang diusung Hassan Hanafi bahkan menjadi isu yang seksi yang sejak awal tahun 90-an menjadi isu paling menarik umat Islam di Indonesia. Bahkan Al-Marhum Abdurrahman Wahid menjadi pendukung kuat Hassan Hanafi, terbukti dengan pengantar Gus Dur dalam buku “Kiri Islam”.

Dalam buku ini, Hassan Hanafi “unjuk rasa” dan “urun rembug” ihwal gagasan hermeneutika yang banyak dibicarakan dalam kajian Islamic studies. Terlebih ketika kajian hermeneutic disematkan dalam kajian ilm al-Quran. Sebagai intelektual Islam di masa kontemporer, Hassan Hanafi bukanlah serampangan untuk “menjatuhkan” hermeneutika dalam lapangan kajian Islamic studies. Dia tetap merespon kajian ini secra serius, bahkan oleh dia dikatakan menarik, karena memberikan angina penyegaran dalam lanskap pemikiran.

Tetapi bukanlah Hassan Hanafi menerima begitu saja hiruk pikuk hermeneutika yang sedang menggejala dalam dunia keilmun. Bukan pula alergi dengan semangat hermeneutika dalam melakukan proses pembebasan dlam berfikir. Tetapi buku ini menjadi sikap Hassan Hanafi dalam memahami secara kritis hermeneutika, sehingga tidak menyilap dan menyulap masyarakat Islam secara taken for granted, tetapi harus melalui kajian keilmuan yang diskursif.

Sebagai sebuah aksioma dalam traktat pengetahuan, Hanafi menerima hermeneutika sebagai salah satu aksioma, yang dalam buku ini dia jelaskan dalam tinjauan Islam. Dalam lapangan kajian keilmuan, sah-sah saja hermeneutika menjadi traktat keilmuan yang digunakan dalam menganalisis beragam fakta social. Tetapi kalau dilekatkan dalam al-Quran, atau menjadi hermeneutika al-Quran, maka tunggu dulu. Dalam pandangan Hanafi, penggagas hermeneutika al-Quran sebenarnya kehilangan kesadaran sejarah jika: menggunakan hermeneutika al-Quran tanpa menyadari konsekuensi teologisnya. Jauh-jauh hari, Hanafi sudah menegaskan bahwa teori kenabian membahas proses penerimaan wahyu secara vertical dari Allah kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril.

Dalam proses vertical ini, Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad bertindak sebagai penerima yang passif. Mereka berdua sepenuhnya bertindak sebagai recorders, sehingga wahyu Allah bersifat verbatim. Dengan kata lain, Nabi Muhammad dan malaikat Jibril tidak menafsirkan pikiran Tuhan. Setelah wahyu verbatim dicatat, berulah proses hermeneutika dapat berfungsi. Jadi, hermeneutika bersifat horizontal, yakni menafsirkan al-Quran setelah wahyu ilahi ini dicatat secara verbatim. Di sini, berulah Muhammad bertindak sebagai active interpreter, yakni menafsirkan al-Quran sesuai dengan konteks.

Dari sini terlihat sekali bahwa Hanafi melihat hermeneutika dalam al-Quran tidaklah srampangan. Hanafi tetap bergerak dalam prinsip bahwa wahyu Tuhan tetaplah terjga keasliannya, tidak bisa asal “diutak-atik gatuk”, tanpa landasan pemikiran yang rasional. Ini bukti bahwa pemikiran Hanafi yang tetap teguh dengan prinsip kajian Islamic studies, tidak asal-asalan menerima pemikiran secara membabi buta.

Sikap kritis dan independent inilah yang perlu menjadi pelajaran intelektual Islam di Indonesia dalam menanggapi beragam persoalan, khususnya terkait dalam Islamic studies. Tidak asal saja menyuarakan kebebasan dan pembebasan, juga tidak asal saja dalam mengkafirkan pendapat orang lain.
—————————–
Judul buku : Tuhan di Dunia Gemerlapku
Penulis : Gilang Desti Parahita
Penerbit : Impulse-Kanisius Yogyakarta
Cetakan : 1, 2008
Tebal : 118 halaman

Dalam khazanah literer agama, Tuhan akan selalu hadir kepada manusia dalam setiap lintasan gerak. Tuhan ada dalam situasi wadag (dhahir) dan misterius (rahasia). Tuhan selalu hadir dalam setiap lintasan ciptaannya yang tersebar di alam jagat raya. Tuhan tidak hanya ada di tepat ibadah, di kafe, diskotik, bahkan tempat prostitusi, Tuhan melampaui semua itu. Sangat naif sebuah pemahaman yang hanya membaca Tuhan di masjid, gereja, kuil, vihara, candi, dan ritus religius lainnya.

Buku ini berusaha membaca pikiran Tuhan dalam berbagai dunia glamor, dunia gemerlap, dan dunia esek-esek lainnya. Buku ini hasil resportase penelitian di tengah dunia glamor masyarakat kota. Setting tempat yang digunakan adalah Yogyakarta. Dalam penjelajaha reportasenya, penulis berkenalan Daisy (bukan nama sebenarnya) yang kebetulan bersedia untuk diwawancarai, bahkan penulis juga diajak untuk melihat aktivitasnya ketika Daisy melupakan sikap hedonisnya di berbagai klub malam di Yogyakarta.

Dalam mengakuannya kepada penulis, Daisy melihat bahwa dunia glamoritas dan hedonitas yang dijalankan bersama para “pemuja kesenangan” tersebut dilakukan sebagai wujud menyalurkan hasrat dirinya terdalam yang tak pantas diintervensi orang lain. Bagi Daisy, apa yang dijalankan merupakan konsekwensi pribadi kehidupan yang sedang dijalani. Barangkali, bagi Daisy, kehidupan yang dijalani adalah fase kehidupan yang memang penuh glamoritas subjektif dirinya. Dia bebas menentukan sikap personalnya dalam menentukan pilihan hidup, yakni hidup untuk bebas.

Terlepas dari dunia glamoritas yang dijalaninya secara tekun pada malam hari, beragama, atau dekat dengan Tuhan, tetaplah kebutuhan pokok dalam dirinya. Walaupun kehidupan malam terus dijalani, Tuhan bagi Daisy jauh lebih mengerti kepada dirinya dari orang lain yang seringkali menilainya secara sepihak dan sepotong. Di malam-malam tertentu, ketika dia bersimpuh di kehadiran Tuhan, Daisy menumpahkan seluruh keluh kesahnya, sehingga di malam itulah, dirinya dengan Tuhannya sangatlah dekat, lebih dekat dari apapun juga.

Keberagamaan dan ketuhanan yang dijalani Daisy memang keluar dari jalur formal keberagamaan masyarakat. Masyarakat memahami keberagamaan sebagai ritualitas yang dijalani secara khuyuk di berbagai tempat ibadah dan ritus magis keagamaan lainnya yang mudah sekali dikenali. Beragama menurut pakem masyarakat umum, adalah beragama secara doktriner, yang memahami agama dari ajaran doktrin yang telah diajarkan oleh para ulama, kiai, pendeta, biksu, rohaniawan. Keluar dari ajaran pakem beragama tersebut dianggap telah melangkahi, bahkan dianggap “murtad” dari ajaran resmi. Bisa jadi akan dibabtis sebagai kafir, orang lain diluar golongan.

Penulis ingin memperlihatkan bahwa beragama dan bertuhan bukanlah dipahami secara linier demikian. Tafsir beragama dan bertuhan sangatlah beragam. Tipologi kesalehan dalam beragama juga bisa dipandang dalam berbagai perspektif yang kaya. Tidak sedikit kiai, pendeta, rohaniawan, atau biksu justru mendalami ajaran agamanya bukan di masjid, gereja, atau kuil. Mereka justru hadir di tengah-tengah masyarakat, baik yang di dunia lurus, dunia bengkok, bahkan sampai dunia paling buruk sekalipun dalam dunia publik.

Kiai Hamim Jazuli dari Kediri, misalnya. Beliau justru sering datang di berbagai lokalisasi di Surabaya untuk menyebarkan ajaran Islam. Gus Mik, begitu panggilan akrabnya, hadir ditengah-tengah dunia malam untuk menyedarkan mereka dari kungkungan kepalsuan hidup. Gus Mik hadir bukan dengan ajaran yang kaku, ajaran yang penuh dalil kitab suci, apalagi ajaran yang absolut. Gus Mik hadir dengan wajah senyum, berpakaian layaknya dunia malam, dan menyebarkan agamanya dengan indah, penuh harapan, dan tanpa kekerasan.

Demikian juga yang dilakukan Romo Mangunwijoyo. Spirit beragama beliau justru tercermin ketika beliau mengadvokasi masyarakat Kali Code dari arogansi negara. Beliau sangat care, perhatian dengan kaum miskin di pinggir kali tersebut. Dan disitulah beliau justru mendapatkan eksistensinya dalam memahami dan menyebarkan ajaran agamanya.

Apa yang dialami Daisy adalah sebentuk kritik terhadap pemahamaan keagamaan yang kaku, rigis, dan absolut. Walaupun Daisy tidak mampu menyebarkan ajaran agamanya, tetapi pemahaman dia atas eksistensinya bersama Tuhannya adalah kritik pedas kepada pemahaman publik bahwa mereka yang bersuka-ria di berbagai club malam adalah bentuk perbuatan amoral dan asosial. Daisy mencoba menggugat pemahaman sempit tersebut. Dia ingin beragaa berdasarkan eksistensi yang dijalaninya sendiri, dan dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya secara mandiri. Sekali lagi, Daisy melihat bahwa Tuhan lebih tahu kepada dirinya pada pendapat publik.

Cara mendekati Tuhan di tengah glamoritas kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini perlu menyegarkan kembali spirit spiritualitas yang kering. Spiritualitas beragama harus lebih dikedepankan, sehingga nilai-nilai agama akan semakin dihayati secara serius dan seksama. Bukan terjebak dalam atribut formal beragama. Substansiasi beragama di tengah kehidupan itulah yang oleh penulis harus menjadi agenda serius umat beragama di dunia modern yang penuh gejolak sekarang ini.
———————-
Judul: Ensiklopedi Islam dan Perempuan: Dari Aborsi Hingga Misogini
Penulis: Prof. Dr. Hj. Sri Suhandjati Sukri, at al
Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung
Ukuran: 15,5 X 23,4
Tebal: 456 hlm
Tahun terbit: 2009

Islam dan perempuan, dua kata yang selalu dihubungkan dengan penuh perhatian. Penghubungan ini tentu saja memiliki latarbelakang khusus, bukan hanya dari sisi sejarah, melainkan juga terkait dengan kondisi gender. Salahsatu fakta disebabkan perempuan dalam agama seringkali menjadi objek, sementara lelaki sebagai subyek.

Hampir semua pesan agama seringkali ditujukan kepada lelaki sehingga kaum perempuan hanyalah penerima, sebagai pihak pasif yang secara tidak langsung menempatkan dirinya sebagai makhluk kelas dua. Kehadiran buku ini bisa jadi sebagai bentuk kegundahan sejarah di mana ternyata pemahaman kaum lelaki terhadap perempuan melalui koridor Islam juga masih bermasalah di Indonesia. Dengan cara menyusun seperti ini setidaknya kita diajak mengenal kekomplitan serta kekomplesitasan masalah Islam dan perempuan.

Yang paling jelas dari masalah sehari-hari misalnya, ialah terjadinya kekerasan terhadap perempuan di kalangan masyarakt muslim Indonesia. Tetapi buku ini tentu saja bukan maksud sebagai pesan perlawanan pada kasus tersebut. Kita sering lupa bahwa masalah Islam dan Perempuan tidak sekedar masalah hubungan suami istri, melainkan sangat luas meliputi persoalan-persoalan pergaulan, psikologi, hak dan kewajiban serta prinsip kesetaraan. Jika masalah-masalah ini diperhatikan satu persatu, maka wajar jika kemudian menggumpal menjadi sebuah ensiklopedi yang sangat menarik ini. Islam dan Perempuan kemudian menjadi sebuah bangunan wacana yang khas, khusus dan sangat efektif dipelajari, terutama oleh para remaja muslim. Sedangkan bagi kalangan akademisi atau orang tua, buku populer ini akan mudah sebagai “kamus” setiapkali kita hendak mengetahui hubungan perempuan dengan masalah agama.

Dari sisi wacana sebuah ensiklopedi memang tidak memberikan wacana yang tajam dan spesifik dan hampir sangat normatif. Tetapi kelebihan ensiklopedi seperti ini ialah mempermudah kita memahamai secara luas dasar-dasar setiap masalah. Jika Karena begitu efektif menjelajah khazanah Islam dan Perempuan, buku ini kalau kita ibaratkan ibarat sebuah kamar khusus tempat bersetubuh intelektual dengan “perempuan” tercinta. Sebab dengan banyaknya persoalan yang diangkat kita bisa tercukupi, untuk tidak menyebut terpuaskan. Itulah pentingnya buku ini menjadi pegangan kita semua.

Tetapi meskipun telah melalui diskusi yang panjang untuk memilih entri dari tulisan, namun sungguh sulit untuk memasukkan unsur Islam dari berbagai cabang keilmuannya yang terkait dengan perempuan. Hal ini disebabkan karena belum semua cabang ilmu keislaman mempunyai referensi yang terkait dengan persoalan perempuan. Meski sulit, kami berusaha untuk menampilkan tulisan tentang ilmu keislaman yang memiliki dimensi keperempuanan. Maka penyusunan Ensiklopedi Islam dan Perempuan ini termasuk pekerjaan yang berat dan langka.

Keinginan untuk menyajikan tulisan yang lengkap dengan referensinya, dimaksudkan agar pembaca yang berminat memperluas wawasan, dapat menjelajahi beberapa pustaka yang disebutkan. Sehingga ensiklopedi ini dapat menjadi pijakan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai Islam dan keperempuanan.
—————————————————————————————-
Judul Buku: George Junus Aditjondro Vis a Vis Gurita Cikeas
Penulis : Komunitas Tanah Air
Editor : S.G. Artha
Penerbit : Tanah Air, Jogjakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : xvi + 174 halaman
Membedah Ulang Gurita Cikeas
SEJAK diperkenalkan Galang Press pada acara pre-launching (23/12/2009) di Jogjakarta, buku Membongkar Gurita Cikeas (MGC), Di Balik Skandal Bank Century yang ditulis George Junus Aditjondro (GJA) menimbulkan kontroversi. Tak kurang, Presiden SBY dalam beberapa kesempatan perlu memberikan sanggahan dan menyebutnya ”fitnah”. Para pendukung SBY pun, baik yang berlatar belakang akademikus maupun politikus, ikut menghujat MGC sebagai ”sampah”.

Kehadiran buku MGC yang sebagian besar menyingkap skandal korupsi atau ”perampokan” Bank Century dan keterlibatan yayasan-yayasan Cikeas binaan SBY seakan menjadi momok yang menakutkan. Sebab, itu mengganggu kekuasaan pemerintahan SBY. Ketakutan tersebut tecermin dari reaksi keras pemerintah yang menilai buku tersebut berisi pelanggaran terhadap SARA, pencemaran nama baik, hingga berakhir pada pelarangan buku. Kita pun bertanya, apa jadinya kalau sebuah buku dibakar, dilarang beredar, dan penulisnya ”dihukum”? Apa bedanya dengan zaman Orde Baru yang membungkam dan melarang buku, yang sudah dikecam habis-habisan oleh gerakan reformasi? Apa bedanya dengan rezim antidemokrasi yang mengadili seorang penulis? Apa bedanya dengan praktik inkuisisi di zaman lalu?

Berlatar belakang pertanyaan itulah, Komunitas Tanah Air ikut andil dalam menanggapi buku kontroversial yang saat ini sudah ditarik dari pasaran itu. Yakni, menerbitkan buku George Junus Aditjondro Vis a Vis Gurita Cikeas. Komunitas Tanah Air adalah komunitas yang sebagian besar anggotanya merupakan mantan aktivis ’98 yang merasakan pahit-getir perjuangan melawan rezim Orde Baru hingga melahirkan reformasi. Mereka juga anak muda NU di Jogjakarta yang concern untuk mempertemukan antara ide-ide ke-NU-an/pesantren dengan ide-ide marhaenisme, ide-ide sosio-ekonomi, dan kerakyatan. Di bawah kepemimpinan Nur Khalik Ridwan, komunitas itu terus berada di barisan terdepan dalam mengontrol bangsa, menentang praktik KKN, dan ketimpangan sosial-ekonomi.

Hingga kini, atau lebih tepatnya hingga buku ini terbit, belum ada buku atau kajian yang coba merespons terbitnya MGC secara serius. Hanya, saat buku ini memasuki naik cetak, telah muncul dua buku lain yang menanggapi buku yang ditulis GJA tersebut. Yaitu, buku Hanya Fitnah dan Cari Sensasi, George Revisi Buku (ditulis Setiardi Negara, Jakarta) dan Cikeas Menjawab (ditulis Garda Maheswara, Jogjakarta). Meski demikian, nada dua buku tersebut tampak terkesan reaktif dan bukan mengapresiasi secara kritis (hlm. vi-vii).

Berbeda dengan dua buku di atas, buku George Junus Aditjondro Vis a Vis Gurita Cikeas

memiliki model dan cara pandang yang berbeda sama sekali. ”Kami menulis buku karena ingin menyikapi buku. Bagi kami, membakar dan melarang buku adalah pekerjaan yang menunjukkan belum menjadi manusia yang beradab, yang akan semakin memperlama penemuan tentang arti menjadi Indonesia yang berwawasan luas, dan tegak berdiri secara terhormat di mata dunia, semakin tergerus mundur. Kami belajar dari masa lalu, bahwa pelarangan dan pembakaran buku tidak bisa melarang dan menghentikan gagasan,” (hlm. 11-12).

Cara pandang yang ditawarkan Nur Khalik Ridwan dkk melampaui buku-buku sebelumnya; bukan sekadar membebek dan “mengamini tanpa reserve” buku MGC. Banyak kelemahan yang dapat ditemukan dalam buku MGC. Bahkan, jika dibandingkan dengan buku George sebelumnya, yaitu Korupsi Kepresidenan, Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi dan Partai Penguasa (diterbitkan LKiS Jogjakarta, 2006), penggarapan buku MGC terkesan tidak serius, seperti penulisannya yang kurang sistematis, tanpa pendahuluan, dan kurang mendalam, baik dari segi analisis maupun keragaman datanya.

Namun demikian, Komunitas Tanah Air juga tidak setuju dengan upaya kelompok-kelompok “yang disebut dalam buku” (termasuk para pendukungnya) melarang, apalagi memberedel, dan menyebutnya buku itu sebagai ”sampah”. Penyebutan ”sampah” muncul karena dilatarbelakangi ketidakpahaman pihak yang menanggapi. Arianto Sangaji mengungkapkan, banyak di antara komentator Gurita Cikeas terjebak debat kusir karena tidak memahami teori ”jejaring korupsi” yang mendasari buku MGC. Bisa ”dimaklumi” bila pelakunya adalah para politikus karena kekuasaannya terganggu.

Salah satu solusi yang ditawarkan para mantan aktivis ’98 dalam buku ini adalah mendorong bangsa Indonesia untuk bersikap bijak, yakni menghidupkan iklim adu argumentasi yang proporsional; buku dibalas buku, penelitian hendaknya juga dibalas penelitian, bukan malah diintimidasi dengan segala bentuknya.

Bagi mantan aktivis ’98 itu, menulis buku adalah kegiatan manusiawi dan kegiatan membangun peradaban. Banyak peradaban yang dapat berkembang dan jaya karena menghargai buku, mencetak buku-buku, dan membuat iklim yang baik agar perdebatan dan diskursus dalam sebuah buku dan wilayah sosial bisa berkembang. Fungsi buku ialah dibaca, baik untuk memperkaya perspektif maupun memperdalam kritik. Buku adalah gizi rohani umat manusia. Karena itu, juga gizi rohani bagi bangsa Indonesia.

Lihatlah founding father’s Indonesia: Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, Wahid Hasyim, dan banyak lagi yang berbeda dari segi ideologi. Mereka membaca semua buku dari berbagai referensi, mulai yang ”kanan” sampai yang ”kiri”. Mereka juga menuangkan pikiran-pikirannya dalam bentuk buku. Tradisi seperti itulah yang tidak lagi kita temukan pada pemimpin-pemimpin bangsa ini, belakangan. Jangankan membaca dan menulis buku, pemimpin kita justru sibuk ”memberedel” buku.

Seorang pemimpin yang baik mestinya memberikan teladan dalam menyikapi suatu masalah. Pelarangan buku adalah tindakan fatal karena buku perlu dibaca sebagai informasi dan pendidikan. Lekra (saja) Tidak Membakar Buku, kata Muhiddin M. Dahlan. Dalam hal ini, pemimpin memiliki tanggung jawab kepada masyarakat untuk memberikan teladan agar menyikapi buku dengan tidak membakar buku; dan rakyat memiliki kewajiban dan hak untuk mengoreksi sebuah kepemimpinan dan pemimpin suatu zaman, agar roda bangsa berjalan lebih bersih, sebagaimana dicita-citakan era reformasi.

Buku Membongkar Gurita Cikeas kiranya termasuk salah satu koreksi terhadap kepemimpinan SBY periode kedua ini. Sebagaimana diungkapkan peneliti ICW Febri Diansyah, buku yang ditulis GJA itu menjadi penting sebagai warning terhadap bangsa ini agar jangan sampai apa yang terjadi di zaman Orba kembali terulang di zaman reformasi. Bahkan, Ray Rangkuti, direktur eksekutif Lingkar Madani Indonesia, berharap agar KPU harus menindaklanjuti data-data yang diungkap GJA dalam bukunya itu. Lalu, kenapa buku tersebut dilarang? Siapa yang tiran dan siapa yang sebaliknya? (*)

Judul Buku: George Junus Aditjondro Vis a Vis Gurita Cikeas

Penulis : Komunitas Tanah Air

Editor : S.G. Artha

Penerbit : Tanah Air, Jogjakarta

Cetakan : Pertama, Januari 2010

Tebal : xvi + 174 halaman

—————————
Judul: Berdamai dengan Kematian; Menjemput Ajal dengan Optimisme
Penulis: Komaruddin Hidayat
Penerbit: Hikmah
Tahun: I, Agustus 2009
Tebal: xxii + 208 halaman
Harga: Rp 37.500

Salah satu fenomena yang pasti dihadapi oleh setiap makhluk hidup adalah datangnya kematian. Menyebut kata kematian seolah membuat orang bergidik merinding. Seakan-akan belum siap, gelisah, takut meninggalkan gegap-gempita dunia ini, dan lain sebagainya. Padahal, siap atau tidak kematian pasti akan datang menghampiri. Di sinilah menjadi tepat kiranya jika Profesor Komaruddin Hidayat mendiskusikan fenomena ihwal kematian.

Secara simplistis, kematian adalah terputusnya hubungan ruh dengan badan, kemudian ruh berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan seluruh lembaran amal ditutup, pintu taubat dan pemberian tempo pun terputus. Kematian tidak berarti berhentinya kehidupan, melainkan perpindahan dimensi waktu dan dimensi alam. Secara metafisis hidup dan kematian adalah tahapan-tahapan agar semakin dekat dengan Tuhan. Oleh karenanya, berbahagialah mereka yang bisa melihat, merasakan, dan berpartisipasi dalam kehidupan ini.

Bagi Pak Komaruddin, ada tiga tonggak penting yang selalu menggurita dalam dimensi fundamental manusia. Yaitu kelahiran, pernikahan, dan kematian. Manusia bisa hidup dan menghirup udara saat ini karena adanya peristiwa kelahiran. Sementara pernikahan terjadi berada di tengah antara kelahiran dan kematian. Pernikahan adalah poros hidup manusia guna menjaga kelestarian generasi pelanet bumi. Dalam alam pernikahan, ada mahligai yang harus disemai, dijaga, dipelihara, dan ditumbuhkembangkan. Pernikahan menjadi aras kebahagiaan sebelum menyongsong kebahagiaan yang hakiki.

Adapun kematian memiliki kemiripan dengan kelahiran. Setiap orang mengalaminya namun tak sanggup menceritakannya. Perbedaannya, kelahirann berada di depan sementara kematian berada di belakang. Kelahiran sesuatu yang tengah terjadi, sementara kematian sesuatu yang akan terjadi.

Ibarat sebuah film atau cerita dalam novel, ending menjadi sangat penting untuk dibuat semenarik dan semenggelitik mungkin. Sebab, penilaian sebuah film atau novel terletak pada endingnya. Bahkan tak jarang para novelis memerlukan waktu berbulan-bulan hanya untuk membuat ending dari cerita novelnya.

Begitu juga dengan manusia. Kematianlah sebagai ending penutup cerita hidupnya. Kematian menjadi penting untuk dipelajari dan disiasati dengan harapan ending dari lembar cerita hidup ini menjadi menarik. Sebab, tak jarang manusia lupa akan ending dalam cerita hidupnya. Mereka sibuk menggarap cerita di dalamnya, namun sepi dari memikirkan ending (kematian) nya.

Tak hanya itu, rasa takut dan pesimis dalam menghadapi ending kehidupan (kematian) juga kerapkali mengiring-iringi dan bersemayam dalam lekuk diri manusia. Di sinilah buku berjudul: Berdamai dengan Kematian; Menjemput Ajal dengan Optimisme karya Komaruddin Hidayat ini menarik untuk dibaca.

Buku ini menyimpan banyak pesan optimistik untuk menjemput kematian. Dengan bahasa yang santun serta lentur, Pak Komar—begitu sapaan akrab guru besar sekaligus rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—ini mendedahkan coleteh segar ihwal kematian dengan memakai sudut pandang al-Qur’an.

Ibarat sebuah sungai, muaranya merupakan merupakan pintu gerbang samudra. Begitu pula dengan kematian, ia adalah muara bagi pintu gerbang samudra kehidupan yang luas dan kekal. Untuk itu, kehadirannya haruslah dinanti dengan rasa senang. Lebih dari itu, kehidupan juga diibaratkan sebuah festival yang entah kapan berakhirnya. Peran apa dan bagaimana manusia memaknai posisi di festival ini, mereka sendiri yang menentukan.

Hanya, manusia sering tenggelam dalam panggung festival. Artinya, kalimat “sesungguhnya apa yang kita cari dankejar dari peran sebagai aktor dalam panggung kehidupan ini” sepertinya jarang disematkan pda diri setiap insane manusia. Padahal, jika disadari bahwa masing-masing aktor hanya memiliki waktu terbatas. Peran yang dimainkan, dan nasib yang diterima berbeda-beda. Dari permainan panggung itu, tak terasa waktu mulai senja. Artinya, festival kehidupan tak akan lama lagi pasti berakhir. Sebab, lorong waktu tak kenal mundur. Setiap waktu mendorong manusia bergerak maju.

Pada titik inilah kematian juga disebut sebagai panglima nasihat dan guru kehidupan. Kematian sebagaimana juga kehidupan adalah anugerah ciptaan Tuhan. Kematian dan kehidupan diciptakan untuk mendorong manusia semakin banyak tabungan amal salehnya. Karena itu, memandang kematian dengan penuh kedamaian dan optimistis adalah sesuatu yang perlu terus dilakukan. Hidup adalah anugerah untuk dirayakan dengan mempererat persaudaraan dan memperbanyak amal kebajikan. Untuk itu, memikirkan kematian adalah suatu hal yang penting dan layak untuk direkomendasikan setiap insan. Artinya, kematian harus selalu diingat dan dipikirkan. Sebab, sedikit saja ia lengah dari memikirkan kematian, maka ia telah kehilangan guru terbaik dalam hidupnya.

Buku setebal 208 halaman ini sangat layak dibaca siapa saja. Ada pesan moral dan spiritual yang begitu dalam dan kental mengiring-iringinya. Dengan membaca buku ini, kita akan diajak untuk sesekali merenung dan sesekali tersenyum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s